Jumat, 20 Desember 2013

" Ijtihad Tidak di Batalkan Oleh Ijtihad "

Maksud dari kaidah ini => Hukum ijtihad yang terdahulu tidak batal karena adanya hukum hasil ijtihad kemudian,sehingga sahlah semua perbuatan yang berdasarkan hasil ijtihad terdahulu,namun untuk perbedaan kemudian hukum,a telah berubah dengan adnya hukum hasil ijtihad yang baru.yang demikian ini adalah karena: 1.Nilai ijtihad adalah sama,sehingga hasil ijtihad kedua tidak lebih kuat dari hasil ijtihad pertam. 2.Apabila suatu keteapan hukum hasil ijtihad dapat dibatalkan oleh ijtihad yang lain,akan mengakibatkan tidak adanya kepastian hukum,sebab akan terjadi hukum hasil ijtihad yang dahulu dibatalkan oleh hasil ijtihad yang sekarang,dan yang sekarang dibatalkan oleh hasil ijtihad yang sekarang,dan yang sekarang dibatalkan oleh hasil ijtihad besok dak seterus,a,sehingga tidak adanya kepastian hukum,dan tidak adanya kepastian hukum ini akan mengakibatkan kesulitan dan kekacaun besar. Berdasarkan kaidah ini,maka apbila suatu pengadilan telah memutuskan hukum terhadap suatu peristiwa/masalah,kemudian pada kesempatan lain terhadap peristiwa/maslah yang yang sama,pengadilan tersebut memberikan hukuman yang lain,maka hasil keputusan yang baru tidak merubah keputusan yang terdahulu,tetapi hanya berlaku pada peristiwa yang baru. Contoh: seorang hakim berdasarkan ijtihad telah mengambil keputusan menjatuhkan hukum penjara 10 tahun.tetapi dalam kesempatan yang lain dalam peristiwa yang sama dia mengambil keputusan dengan menjatuhkan hukumana kurang 10 tahun,maka dalam hal ini keputusan yang baru tidak dapat merusak keputusan terdahulu,artinya si pelaku yang pertama tetap dihukum 10 tahun,dan si pelaku kedua tetap dihukum kurang dari 10 tahun. Contoh lain: 1.Seorang sembahyang dengan menghadap suatu arah yang di anggap qiblat,kemudian pada wktu masuk sembahyang berikut,a berubah anggapan,a tentang qiblat,maka dia harus menghadap arah yang dianggap,a qiblat dan tidak wajib meng-qodlo sembahyang,a yang pertama. 2.Seseorang dalam ijtihad,a telah menentukan suci,a salah satu dari dua bejana kemudian menggunakan,a dan meninggalkan yang satu,a,kemudian berubah anggapan,a,maka tidak boleh melakukan seperti anggapan yang kedua,tetapi harus tayamum. 3.Seorang qoif,ahli penyelidik bakas(telapak kaki dan sebagai,a)telah memastikan bekas tersebut adalah bekas salah satu dari dua orang tersangka,kemudian dia berubah dan memastikan kepada tersangka yang lain,maka tidak diterima. CATATAN: Rusak keputusan ijtihad seorang hakim apabila berlawanan dengan nash atau ijma' atau qiyas jaly,atau menurut Al-iroqy,berlawanan dengan kaidah-akaidah yang kully,atau menurut ulama-ulama hanafi,hukum,a tidak berdasarkan sesuatu dalil. "semoga bermanfaat"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar